Jumat, 26 Desember 2014

Latar Belakang Kaum Puritan Inggris Melakukan Migrasi

Puritanisme Amerika berawal dari Inggris di pertengahan abad 16. Tepatnya pada tahun 1534 seorang raja Inggris, Henry VIII memutus hubungan dengan Gereja Katolik Roma. Kemudian dia mendirikan Gereja Inggris (Church of England) atau lebih popular dengan sebutan Gereja Anglikan. Menurut Michael Kammen hal ini merupakan sebuah bentuk kompromi antara Protestan Radikal dengan Katolik Roma. Sehingga masih ada beberapa unsur dari Gereja Katolik Roma di Gereja Anglikan, misalnya tingkatan uskup dan pendeta, bentuk pemujaan, dan dekorasi gereja.

Lambat laun paham Puritan ini semakin berkembang di Inggris, terutama di daerah Essex. Penduduk daerah ini melakukan beberapa hal yang melebihi apa yang dilakukan oleh Henry VIII. Mereka ingin menerapkan pemerintahan gereja (Ecclesiastical Polity). Sehingga beberapa bagian gereja yang tidak sesuai dengan dasar Kitab Perjanjian Baru diganti, misalnya: buku doa, upacara, kostum upacara, dan perayaan Natal. Contoh konkritnya penduduk Essex tidak menggunakan buku doa ketika melakukan kebaktian.

Pada tahun 1559 ada perpindahan kekuasaan dari Raja Henry VIII kepada Ratu Elisabeth I. Dia tidak mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh penduduk Essex. Asal mereka masih berada di dalam komuni Gereja Anglikan.

Akan tetapi Kaum Puritan ini tidak setuju dengan Gereja Anglikan yang masih mendapat pengaruh Roma. Mereka ingin kembali ke kesederhanaan seperti pada awal berkembangnya agama Kristen. Pemimpin gerakan Puritanisme pada waktu itu adalah Thomas Cartwright. Pemikirannya berbeda dengan Gereja Anglikan karena Gereja Anglikan lebih bersifat nasionalis, mencakup seluruh penduduk. Sedangkan menurut Cartwright lebih liberal, karena di dalam gereja terdiri dari sebuah jemaat dan mereka harus diperbolehkan untuk memilih pendeta, menjalankan ibadah, menyelesaikan masalah secara pribadi tanpa campur tangan orang lain bahkan negara.

Keadaan semakin memburuk ketika Raja James naik tahta pada tahun 1603. Dia menolak reformasi Kaum Puritan. Mereka pun sadar bahwa reformasi tidak akan terwujud di Inggris, namun mereka masih teguh memegang keyakinan mereka. Mereka yakin bahwa jemaat mereka ada karena kuasa Tuhan bukan karena Gereja Anglikan.

Kaum Puritan mendapat tekanan yang semakin besar oleh pemerintah. Namun mereka juga tidak mau melunak terhadap pemerintah. Kemudian muncul gerakan Separatis dari Kaum Puritan. Gerakan ini dianggap berbahaya oleh Raja James I. Gerakan ini dipimpin oleh Robert Browne. Dia tidak dapat mentolerir adanya Gereja Anglikan. Menurutnya, gereja ini berhubungan erat dengan pemerintahan sipil. Seharusnya gereja itu merupakan sebuah institusi spiritual murni, tanpa campur tangan pemerintah sipil.

Pemikiran Browne terhadap gereja lebih demokratik karena menurutnya gereja merupakan sekelompok orang Kristen yang membuat perjanjian dengan Tuhan dan bersama-sama berjuang untuk mencapai tujuan Kristiani. Dia lebih menekankan sisi perkembangan spiritual dan persaudaraan jemaat. Kemudian pemimpin gereja dipilih oleh warga gereja yang bertanggung jawab kepada mereka.

Namun prinsip gereja demokratik ala Browne berubah menjadi Presbitarian ketika Kaum Puritan dipimpin oleh Separatis lain, Henry Barrowed dan John Greenwood.  Presbitarian merupakan sebuah sistem yang menjadikan pastor dan guru sebagai pemegang kekuasaan. Sehingga kekuasaan bukan di tangan jemaat.

Pemerintah semakin memusuhi para Separatis, oleh karena itu mereka terdorong untuk pindah ke tempat lain untuk memperoleh kebebasan. Kemudian mereka pindah ke Belanda bersama pastor John Robinson. Namun mereka tidak dapat bertahan lama disana karena beberapa alasan. Menurut William Bradford dalam Of Plymouth Plantation, setidaknya ada empat alasan. Pertama, mereka merasa tidak aman di negeri asing. Kedua, masalah usia, bagaimanapun juga semakin hari mereka semakin tua. Mereka khawatir jika meninggal di negeri asing. Ketiga, pengaruh pergaulan anak-anak mereka dengan anak-anak Belanda. Menurut ukuran kaum Puritan beberapa kelakuan anak-anak Belanda dianggap buruk. Hal ini memberikan pengaruh terhadap anak-anak kaum Puritan, misalnya pada beberapa kasus ada anak-anak kaum Puritan yang menentang ajaran orang tuanya. Keempat, mereka mempunyai keinginan untuk menyebarkan kepercayaan mereka di tempat lain.

Setelah kolonisasi di Amerika oleh bangsa-bangsa Eropa mulai berkembang, maka mereka melakukan migrasi kesana. Mereka mendapatkan ijin dan sponsor deri Virginia Company, sebuah kongsi dagang Inggris untuk mendirikan pemukiman di daerah Virginia. Para pengungsi ini menyebut diri mereka sebagai Pejiarah (Pilgrims) dari Belanda berangkat ke Southampton, Inggris. Kemudian dilanjutkan dengan berlayar ke Amerika.

Berdasarkan ijin yang diberikan oleh Virginia Company, mereka dapat berlayar ke Jamestown, Virginia dengan menggunakan Kapal Mayflower. Akan tetapi kapal mereka terhantam badai, sehingga mereka terbuang jauh kearah utara. Mereka mendarat di Semenanjung Cape Cod, Massachusetts. Akhirnya mereka menetap di Plymouth, Massachusetts diluar kekuasaan Virginia Company. Sehingga status hukum mereka tidak jelas. Mereka menyadari hal ini, sehingga mereka terdorong untuk membuat persetujuan. Persetujuan ini dikenal sebagai Mayflower Compact. Tujuannya agar mereka mempunyai dasar hukum untuk pemerintahan selanjutnya. Berdasarkan persetujuan tersebut, kaum Separatis dapat membentuk jemaat dan warga harus mematuhi raja. Sehingga persetujuan ini lebih condong ke masyarakat sipil, bukan masyarakat agama. Kaum Puritan di Inggris semakin mendapat tekanan dari pemerintah, sehingga semakin banyak pula Kaum Puritan yang pindah ke Amerika.

Kesimpulannya, Kaum Puritan Inggris yang bermigrasi ke Amerika mempunyai motivasi utama yaitu agama. Karena mereka tidak mampu melakukan reformasi terhadap gereja di Inggris, sehingga mereka membutuhkan tempat baru untuk menerapkan ajaran dan keyakinan mereka secara bebas. Selain itu mereka juga ingin membentuk sebuah negara teokrasi dan memimpinnya.


Setyari P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar